Pengalaman Periksa GERD Di RS Banyumanik

Ketika rasa jenuh menghampiri saat menunggu Kevin rawat inap di RS Banyumanik, aku  berinisiatif untuk mencari info mengenai poli penyakit dalam yang ada di situ. Aku ingin memeriksakan kondisiku yang sering merasakan nyeri di uluhati, jantung berdebar-debar samai nafas tersengal-sengal, perut keram, dll.

Aku langsung saja menuju ke bagian pendaftaran untuk menanyakan seputar jadwal praktek dokter spesialis penyakit dalam terdekat yang ternyata adalah keesokan harinya. Aku pun mendapftar dan mendapat antrian nomor 24. Hanya saja, saat itu, aku berpikir kalau jadwal prakteknya dimulai pukul 7 atau 8. Sehingga, pagi harinya, setelah dokter memeriksa Kevin, aku segera keluar untuk mencari buah untuk sarapan terlebih dahulu. Ternyata aku salah, setelah kembali ke RS dan menuju ke poli penyakit dalam ternyata dikternya sudah pulang. Aku segera membuka ponsel untuk melihat jadwal praktek dokter pagi itu dan ternyata dimulai pukul 5.00 s/d 7.00.
Siang harinya, aku kembali mendaftar ke poli penyakit dalam. Kali ini, aku mendapat antrian nomor 16. Jadwal prakteknya dimulai pukul 15.00 sampai selesai. Aku standby di ruang tunggu depan poli ditemani Kevin yang sudah merasa jenuh di kamarnya. Sebelum bu Sri Wahyuni, dokter spesialis penyakit dalam yang akan memeriksa datang, semua pasien diukur tensinya terlebih dahulu. Bu Yuni datang sekitar pukul 16.00.
Setelah menunggu hampir satu jam, tibalah giliranku masuk ke ruangan praktek bu Yuni. “Anu, bu. Aku hampir setiap hari merasakan nyeri di ulu hati. Terkadang sampai membuat jantung berdebar-debar keras gitu”. Kataku memberitahu keluhanku secara singkat. Aku kemudian diminta untuk berbaring dan diperiksa detak jantungku beberapa saat.
Bu Yuni kemudian memintaku untuk duduk dan mengangkat kedua tanganku seukuran dada dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Di atas punggung telapak tangan kemudian diberi kertas. Mungkin itu digunakan untuk melihat apakah aku gemeteran atau tidak.
Melihat telapak tanganku pucat, bu Yuni memintaku membuka kacamata. Beliau mengamati mataku beberapa saat. Setelah itu mengamati sekitar tenggorokanku untuk memeriksa apakah ada benjolan atau tidak dan ternyata aman.
Setelah berpikir sejenak, bu Yuni memintaku untuk melakukan rekam jantung menggunakan EKG. Seorang perawat membawaku ke ruangan sebelah untuk melakukan rekam jantung. Aku manut saja karena saat itu sensasi GERD yang muncul sedang heboh-hebohnya.
Hasil rekam jantung dinyatakan bagus. Debaran jantung yang tak beraturan itu bukanlah disebabkan oleh penyakit jantung. Ibu Yuni menduga ada organ lain atau partikel yang mendorong jantung sebelah kanan. Hal itu dapat mengganggu kerja jantung. Aku kemudian disarankan untuk menjalani foto rontgen.
Hari itu, bu Yuni tidak memberikan obat. “Gak usah tak kasih obat, ya. Kamu gak perlu obat untuk saat ini.” kata beliau dengan ekspresi yang seakan menegaskan bahwa aku baik-baik saja.
Biaya layanan dokter dan rekam jantung hari itu adalah Rp190.000.
Keesokan harinya, aku kembali ke RS Banyumanik untuk melakukan rontgen bagian dada. Sekitar pukul 11.00 aku dilayani oleh seorang petugas wanita. Aku meminta hasilnya bisa keluar sesegera mungkin karena akan aku gunakan untuk kembali ke dokter Yuni. Dia menjanjikan esok hari hasilnya jadi.
Setelah menjalani foto rontgen, aku menuju ke bagian pendaftaran. Aku hendak mendaftarkan diri lagi untuk periksa ke poli penyakit dalam lagi. Aku kira, pendaftaran bisa dilakukan sehari sebelumnya seperti sebelumnya ternyata tidak. Sudah kepalang basah, nomor antrian sudah dibuat, akhirnya aku mendaftar periksa hari itu juga. Aku mendapat nomor antrian 20.
Pukul 15.00, aku datang lagi ke RS. Aku meminta Widut untuk mengambilkan hasil foto rontgen milikku. Aku katakan padanya kalau aku merasa tidak enak mau mengambil sendiri karena audah diberitahu jadinya besok. Namun, karena hari ini sudah kadung daftar aku mencoba peruntungan. Siapa tahu hasilnya sudah jadi dan boleh dibawa.
Widut mengetok pintu ruangan radiologi berkali-kali tidak mendapat jawaban. Ia sudah hampir menyerah. Aku sudah ketar-ketir. Aku minta dia mencoba sekali lagi. Beruntung saat itu ada seorang bapak yang menurut Widut berperawakan seperti tentara membantunya menggedor pintu radiologi dengan keras. Perugas pun keluar. Setelah Widut menjelaskan duduk perkaranya ternyata hasilnya boleh dibawa. Aku sangat lega.
Aku segera berlari menuju poli penyakit dalam karena saat itu sudah pukul 15.16. Aku sudah terlambat. Sesampainya di ruang tunggu, aku segera menghampiri seorang perawat yang sedang mengukur tensi pasien lain. Aku menunggu giliran untuk ditensi.
Bu Yuni datang pukul 16 lebih sedikit. Setelah menunggu sekitar satu jam, tibalah giliranku untuk diperiksa. Setelah masuk ruangan dengan membawa hasil rontgen, bu Yuni ternyata masih mengenaliku. “Oh yang kemarin itu, ya?” Tanya beliau. Aku menganggukkan kepala. “Njih, bu” jawabku.
Bu Yuni melihat hasil rontgen yang aku berikan kemudian menunjuk bagian lambung “Kamu makan yang banyak, ya. Lihat nih lambungmu kosong. Tidak ada makanan, tidak ada minuman. Mungkin itu yang membuat jantungmu sering berdebar-debar gak karuan. Orang yang lapar biasa seperti itu.”. Kata bu Yuni menjelaskan. “kamu kalo lapar juga begitu, kan?” Tanya bu Yuni kepada perawat di sampingku. Dia tertawa. Aku pun demikian. “Ini gurauan tapi serius” lanjut bu Yuni.
Aku gak heran kalau lambungku kosong saat difoto rontgen. Hal ini disebabkan aku terakhir kali sarapan buah (bahasa pop anak Food Combiner adalah sarbu) pukul 10.00 pagi. Menu sarapan terakhir adalah 4 buah rambutan dan 1 buah mangga dimakan berdua sama Widut (Pisangnya sudah dihabiskan Kevin). Masa cerna buah pada umumnya hanya 15 menit. Sedangkan aku difoto rontgen pada sekitar pukul 11.00.
“Kamu gak apa-apa. Hasil rekam jantungnya bagus. Ini (menunjuk hasil rontgen) juga bagus. Makan yang banyak, ya. Biar gak gemeteran lagi. Gak usah cemas atau panik biar nafsu makan bertambah. Masalahmu cuma satu, merasa cemas dan khawatir sebenarnya aku ini sakit apa, to? Kok rasanya gini-gini. Iya to? Kamu merasa seperti itu?”
“Njih, bu” jawabku sambil menganggukkan kepala.
“Gak usah begitu. Biasa saja. Kalau kamu ssring merasa cemas malah jadi gak produktif. Mau ngapa-ngapain takut”.
“Apa aku perlu ke psikolog, bu?” Tanyaku penasaran.
“Gak perlu. Kamu gak perlu kemana-mana. Wong kamu sehat-sehat saja, kok. Malah menghabiskan duit saja. Mending duitnya buat beli apa gitu”.
“Njih, bu”, jawabku.
“Iya, to? Pasti kamu sudah keluar duit banyak untuk periksa. Sayang uangnya. Mending buat beli makanan. Makan yang banyak, ya. Biar lambungnya gak kosong gitu. Minum susu biar gak gemeteran.”.
Setelah menjelaskan panjang lebar, bu Yuni memberiku beberapa resep obat.
Ketika aku membuka pintu untuk keluar ruangan, bu Yuni setengah berteriak “Ingat! Gak usah ke mana-mana. Makan aja yang banyak”, pesan beliau. Aku menganggukkan kepala sambil berkata “njih, bu”.
Sisa senyuman ketika menjawab pesan bu Yuni terlihat oleh Widut setelah aku keluar dari ruangan. Dia merasa keheranan kok keluar dari ruangan tampak sumringah gitu.
Saat menunggu antrian di apotek, aku menjelaskan apa yang terjadi di dalam ruangan poli penyakit dalam. Widut nyeletuk “Padahal! Apa yang disampaikan itu sudah berkali-kali disampaikan sama bu Anung. Kakak sih gak percaya”.
“Bukannya gak percaya. Kalau ada bukti fisik seperti ini kan aku jadi lebih mantab.” Jawabku membela diri.
“Lalu ngapain obatnya ditebus segala?” Tanya Widut.
“Aku lagi kejar deadline, kecapekan, habis kehujanan, kurang tidur habis jaga Kevin, mikir banyak tanggungan, dll. Rasanya aku butuh bantuan obat penenang dan obat pereda nyeri. Biar aku gak terlalu berat. Paling tidak aku merasa nyaman untuk beberapa hari ke depan. Setelah itu, semoga staminaku sudah cukup untuk menghadapi kenyataan tanpa obat”.
Widut manut saja. Toh kalau mau membantah juga gak akan dihiraukan sama suaminya.
Sayangnya, ternyata aku belum berani minum obat. Meskipun sensasi yang kurasakan luar biasa. Kemarin malam, di dalam perut terasa ada lomba tiup udara. Bergerak ke sana kemari dan seringkali membuat perut terasa keras. Terasa seperti diremas-remas. Pukul 2 dini hari baru bisa tidur.
Pengalaman Periksa GERD Di RS Banyumanik
Hari ini, mulai sehabis dzuhur perut juga sudah mulai berulah lagi. Sphincter esofagus bagian bawah (LES) terasa nyeri kalau bersendawa. Padahal sendawanya berkali-kali. Dada terasa panas dan nyeri secara random posisinya. Pandangan terasa kabur. Kepala pusing. Sedikit porsi SVT. Tapi aku bersyukur kecemasannya berkurang.
NB:
Aku adalah pelaku pola makan Food Combining (FC) sejak setahun yang lalu. Sensasi GERD yang kurasakan sangat banyak berkurang. Dulu, aku ke kamar mandi saja tidak berani mengunci pintu. Kemana-mana harus ditemani. Takut tiba-tiba pingsan atau apa tidak ada yang tahu. Tidur saja takut bablas mati. Makanya jadi insomnia. Dan masih banyak sensasi lainnya yang pernah kurasakan. 
Seiring berjalannya waktu menjalani FC, sensasi-sensasi itu berangsur hilang. Aku selama menjalani FC tidak pernah minum obat penguat lambung, penenang, atau obat lainnya yang biasa diresepkan kepada penderita GERD, celiac disease, grastitis, mag, waakhowatuha. Aku lebih nyaman minum jus sayur saat sensasi GERD datang mengajak bercumbu.
Akhir-akhir ini, mungkin karena stress mikir deadline tanggal 14 Januari kerjaan harus kelar, kecapean kerja, kurang tidur selama menjaga Kevin sakit, beberapa kali kehujanan membuat sensasi-sensasi yang telah lama pergi itu seperi mendapat undangan VIP saja. Tapi aku yakin kalau semua ini ada hikmah-Nya, cinta-Nya, sayang-Nya, rindu-Nya, dan ridlo-Nya padaku. Amin.
Spesial thanks kepada bu Anung Nur Rachmi yang sangat baik hati berkenan membimbing dan menemaniku beserta keluarga untuk menjalankan pola hidup sehat. Maafkan jika curhatan kami seringkali datang di saat yang tidak tepat dan mengganggu. Pun untuk mbak Konah yang menjadi sumber inspirasi dan tauladan dalam menjalani Food Combining. Maaf jika kami sering mencuri resep diam-diam. 
Semoga limpahan rahmat dan kasih sayang Allah serta rindu, cinta, juga ridlo-Nya selalu tercurah untuk beliau berdua.

Leave a Reply