Belajar Mendongeng

 BELAJAR MENDONGENG

Si K sangat senang sekali mengajak bermain peran menggunakan mainan yang dimilikinya. Dia menyebutnya dengan istilah “bilang-bilangan”. Seasyik apa pun video Youtube atau Netflix yang dia tonton akan ditinggalkan juga saat aku bilang “main bilang-bilangan, yuk”.
Saat aku di Semarang, kata Ayi, si K hampir sepanjang hari mengajak ibunya main bilang-bilangan. Apalagi kalau hujan sejak pagi hari dan tidak ada teman sebaya yang diajak main.
Belajar Mendongeng

Main bilang-bilangan sama si K itu bukan perkara yang mudah. Aku pernah memilih peran sebagai ultraman dan si K berperan sebagai monsternya. Saat aku menyerang monster itu bertubi-tubi dengan penuh ekspresi malah membuatnya menangis ketakutan.
Ayi memanfaatkan momen bilang-bilangan ini untuk mengenalkan si K dengan buku. Peran yang dimainkan Ayi diarahkan untuk membaca buku. Ini sangat efektif membuat si K tertarik. Aku salut dengan cara Ayi memanfaatkan kesempatan. “Kok iso-isone kepikiran koyo ngono” batinku.
Berkat bermain bilang-bilangan itu, si K jadi pintar bercerita meskipun bahasanya masih sulit dipahami. Kalau sedang telpon, dia tidak akan memberiku kesempatan bicara. Ada saja yang dikatakannya. Pun demikian kalau aku pulang dari Semarang, A sampai Z diceritakan semuanya.
Beberapa hari yang lalu, aku diinterupsi sama si K saat menjelaskan tentang gizi padanya. “Stop, abah! Stop!” katanya lalu menceritakan sesuatu dengan panjang lebar. Ayi tertawa puas melihatku disuruh diam oleh si K. Kata Ayi, sebenarnya si K sudah beberapa kali mau bilang sesuatu tapi setiap mau buka mulut aku melanjutkan penjelasanku. Tidak ada kesempatan untuk menyela. Akhirnya dia jengkel dan langsung bertindak asertif.😂
Terimakasih, Ay. Terimakasih telah menjadi ibu terbaik untuk si K. Kekuatanmu benar-benar luar biasa dalam membersamai si K. Aku yakin banyak ibu-ibu yang tumbang diminta menemani anaknya main sepanjang hari lalu memilih cari kerja dan menitipkan anaknya.
Maaf, ya. Jika aku belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Masih sering mangkir dari tugas “momong” dengan alasan urusan pekerjaan.

Leave a Reply