Di ruang perawatan Rumah Sakit Lancang Kuning, Provinsi Riau, aroma obat bercampur dengan wangi bunga dari taman rumah sakit. Suara langkah perawat dan staf berpadu dengan desiran angin yang masuk dari jendela terbuka, menciptakan ritme keseharian yang lembut namun dinamis. Pasien ODGJ duduk di bangku panjang atau bergerak perlahan di halaman, ditemani staf yang membimbing mereka dengan sabar. Suasana ini memperlihatkan harmoni antara perawatan medis, rehabilitasi sosial, dan lingkungan yang humanis.
Daftar Isi
Di sinilah, Dr. Pradipta Suarsyaf menjadi sosok penting. Beliau bukan hanya dokter spesialis kesehatan jiwa, tetapi juga inisiator program ODGJ Asuh, layanan yang menggabungkan perawatan medis, rehabilitasi sosial, dan pelatihan keterampilan bagi pasien ODGJ agar kembali mandiri.
Lahirnya Program ODGJ Asuh
Program ODGJ Asuh lahir dari pengamatan Dr. Pradipta terhadap realitas pasien ODGJ di Riau. Banyak pasien yang setelah mendapat perawatan medis tetap menghadapi stigma sosial, kesulitan ekonomi, dan isolasi dari masyarakat. Melalui pendekatan pre-hospital, hospital, dan post-hospital, program ini memastikan pasien tidak hanya sembuh secara fisik atau psikologis, tetapi juga dapat berinteraksi kembali secara produktif di masyarakat.
Di halaman rumah sakit, pasien terlihat belajar berkebun, membuat kerajinan tangan, atau memasak. Aktivitas sederhana ini bukan hanya terapi, tetapi juga sarana belajar keterampilan baru. Aroma bunga yang segar dan suara tawa pasien yang perlahan muncul menjadi bukti bahwa penyembuhan bisa hadir dalam suasana hangat dan manusiawi.
Kolaborasi dengan Komunitas dan Lembaga
Program ODGJ Asuh dijalankan melalui kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Puskesmas, RS Lancang Kuning, dan lembaga filantropi. RS Lancang Kuning menerima pasien dengan SKTM dan BPJS, sehingga layanan ini dapat diakses oleh pasien dari status sosial ekonomi kurang beruntung.

Selain itu, program ini didukung unit rehabilitasi sosial Kementerian Sosial dan berbagai lembaga filantropi. Pasien yang pulih diberi pelatihan keterampilan, mulai dari kerajinan tangan hingga pertanian urban, agar dapat kembali produktif di masyarakat. Pendekatan ini membuktikan bahwa perawatan ODGJ bukan sekadar medis, tetapi pemberdayaan yang menyeluruh.
Tantangan Stigma dan Realitas Sosial
Stigma terhadap ODGJ masih menjadi tantangan besar. Survei lokal menunjukkan lebih dari 60% masyarakat memiliki pandangan negatif terhadap ODGJ. Hal ini menyebabkan pasien enggan mencari bantuan karena takut dihakimi atau dijauhi.
Dr. Pradipta memandang bahwa pendidikan keluarga dan komunitas sama pentingnya dengan terapi medis. Setiap pasien yang pulih akan mendapatkan pendampingan agar keluarga memahami kondisi mereka, menciptakan lingkungan yang mendukung reintegrasi sosial. Suasana rumah sakit mencerminkan hal ini: keluarga pasien ikut terlibat dalam kegiatan harian, membangun komunikasi yang sehat, dan belajar mendukung proses pemulihan.
Pendekatan Holistik: Medis dan Pemberdayaan
Pendekatan Dr. Pradipta menggabungkan perawatan medis, terapi psikologis, dan pelatihan keterampilan. Pasien belajar kerajinan tangan, berkebun, memasak, atau mengurus hewan ternak. Setiap kemajuan dirayakan; tawa pasien yang mulai muncul di halaman rumah sakit menjadi bukti keberhasilan rehabilitasi.
Suasana hangat selalu terasa: staf mendampingi pasien dengan sabar, keluarga dilibatkan, dan setiap pencapaian pasien diapresiasi bersama. Lingkungan ini membangun kepercayaan diri pasien yang selama ini tertahan akibat diskriminasi sosial.
Kisah Nyata dari Anandalis
Dalam liputan Anandalis, digambarkan bagaimana Dr. Pradipta menemui pasien yang sebelumnya tinggal di sudut pasar, tubuhnya kurus dan lusuh, diusir warga karena dianggap mengganggu. Dari pengalaman itu, beliau memahami bahwa bantuan harus bersifat komprehensif dan inklusif.

Dr. Pradipta mengubah RS Lancang Kuning dari paviliun kecil menjadi rumah sakit dengan 50 tempat tidur, yang mampu menerima pasien gangguan jiwa dari berbagai latar belakang, termasuk dhuafa. Kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Inhil dan lembaga filantropi memungkinkan pasien dari keluarga kurang mampu mendapatkan layanan kesehatan berkualitas tanpa biaya.
“ODGJ Asuh menjadi oase di tengah tantangan kesehatan jiwa, di mana pasien dapat mengakses layanan yang berpihak pada kaum marjinal,” ujar Dr. Pradipta.
Pengakuan Nasional
Dedikasi Dr. Pradipta diakui melalui SATU Indonesia Awards 2020 dan 2023, di mana beliau dinobatkan sebagai Tokoh Inspiratif Astra untuk kategori kesehatan. Penghargaan ini menyoroti keberhasilan program ODGJ Asuh dan memberi inspirasi agar lebih banyak pihak terlibat dalam pemberdayaan ODGJ.
Suasana malam penghargaan terasa hangat dan penuh haru: tepuk tangan bergemuruh menandai pengakuan atas kerja keras Dr. Pradipta, sementara senyum pasien dan staf rumah sakit menjadi motivasi lanjutan bagi dedikasinya.
Dampak Nyata Program
Program ODGJ Asuh membawa perubahan nyata:
- Kemandirian Ekonomi: Pasien memperoleh keterampilan untuk mandiri, mulai dari kerajinan tangan hingga memasak.
- Reduksi Stigma: Keluarga dan masyarakat belajar menerima ODGJ sebagai individu produktif.
- Kesehatan Mental Berkelanjutan: Pendampingan jangka panjang memastikan pasien tetap sehat dan produktif.
- Kolaborasi Multi-Pihak: Dukungan pemerintah, rumah sakit, dan lembaga filantropi menjangkau pasien lebih luas.
Di halaman rumah sakit, suara tawa pasien berpadu dengan desiran angin dan aroma taman segar, menandai keberhasilan transformasi sosial yang sedang berlangsung.
Dr. Pradipta Suarsyaf membuktikan bahwa kesehatan jiwa bukan hanya soal obat atau terapi medis, tetapi juga pemberdayaan sosial, ekonomi, dan penghapusan stigma. Program ODGJ Asuh mengubah rumah sakit menjadi ruang harapan, di mana pasien ODGJ kembali menemukan martabat, kemandirian, dan tempat mereka di masyarakat.
Dedikasi beliau menjadi inspirasi bagi tenaga kesehatan, filantropis, dan masyarakat luas: dengan empati, kolaborasi, dan ketekunan, perubahan positif dapat diwujudkan bahkan untuk kelompok yang paling rentan sekalipun.