fbpx

Namaku Ahmad Budairi, Tapi…

Nama lengkapku sesuai pemberian orang tua adalah Ahmad Budairi. Orang-orang sekitar memanggilku Cak Bud atau Bud saja. Kala itu, saat aku masih kecil, huruf d pada Ahmad terkadang diganti dengan t menjadi Ahmat. Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Nama di raportku saat menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyyah (MI) menggunakan Ahmat Budairi.

Seiring berjalannya waktu, namaku berubah. Aku lupa bagaimana ceritanya saat ujian nasional namaku berubah menjadi tinggal Budairi saja. Walhasil saat ijazah keluar namanya tidak menggunakan Ahmat.
Aku tidak mempermasalahkan pemotongan nama hingga suatu saat menyadari ada ketidaksamaan antara nama di ijazah dan di KTP. Saat menyadari hal itu, aku sedang mengurus berkas untuk pernikahan. Nama di ijazah tertera Budairi sedangkan nama di KTP dan KK tertera A. Budairi. Karena saat itu aku belum memiliki akta lahir, maka aku memilih mengganti nama di KTP dan KK dan calon akta sesuai dengan nama di ijazah. Karena menurutku itu yang lebih masuk akal dibanding mengubah nama di ijazah.
Setelah menghapus A. dari KTP dan KK aku baru ingat kalau buku rekening bank yang aku miliki menggunakan nama sesuai KTP yang lama. Aku pun segera mengurus pengubahan nama ke bank terdekat. Untungnya saat itu tidak dipersulit urusannya.
Drama belum selesai. KTMku serta nama penerima beasiswa menggunakan nama sesuai KTP lama. Aku segera menghubungi bagian administrasi Unesa untuk memberitahukan masalah perubahan data yang telah aku lakukan. Alhamdulillah hal itu tidak dipermasalahkan.
Setelah semua nama di sistem administrasi negara, bank, dan pendidikan disamakan menjadi Budairi, aku rasanya tetap tak bisa menghapus Ahmad dari nama lengkapku.
Hanya saja, saat di Salatiga, Widut memperkenalkanku kepada keluarga dan tetangga serta teman-temannya menggunakan nama Ahmad. Aku tidak tahu apa alasannya. Entah dia tidak suka dengan nama Budairi atau kesulitan menggunakan nama itu untuk memperkenalkan diriku. Sehingga, ketika di Salatiga, nama Budairi tidaklah dikenal kecuali oleh orang-orang tertentu saja.
Aku sendiri ketika memperkenalkan diri kepada orang-orang baru lebih suka menggunakan Budairi. Hanya saja, kendalanya adalah saat aku memperkenalkan nama itu selalu saja mereka minta diulang. Mereka kesulitan mengeja namaku. Karena itu, aku seringkali dipanggil Baiduri, Budari, Buidari, atau Budiari.
Aku tidak mempermasalahkan banyak orang salah eja saat memanggil namaku. Aku tidak akan pernah bosan memperkenalkan namaku sebenarnya kepada publik. Aku banggan dengan nama pemberian orang tuaku.
Foto Jalan-Jalan Di Maerokoco Semarang
Foto Jalan-Jalan Di Maerokoco Semarang
Tahukah kamu arti dari nama Ahmad Budairi itu?
Konon menurut cerita. Ahmad itu upaya tabarukan (jawa: ngalap berkah) dari nabi Muhammad dengan menyematkan nama beliau padaku. Ahmad adalah panggilan lain dari nabi Muhammad. Sedangkan Budairi dalam kaidah bahasa Arab merupakan isim tasghir dari kata badrun. Artinya purnama kecil. Purnama Kecil yang diharapkan mampu meneladani Baginda Nabi Muhammad. Apa tidak keren nama itu?

Leave a Reply