fbpx

Aku Menulis Karena Tak Tahu Kapan Ajalku Tiba

Orang kaya bisa terkenal dan dikenang oleh kedermawanannya. Dosen atau guru bisa dikenal dan dikenang berkat ilmu yang dimilikinya. Pejabat bisa dikenal dan dikenang karena kepemimpinannya. Orang berpangkat bisa dikenal dan dikenang karena kekuasaannya. Artis, budayawan, dan pemain film bisa dikenal dan dikenang karena kiprahnya dibidang masing-masing. Lalu siapa aku? Siapa yang mau mengenalku? Siapa yang mau mengenangku setelah kematianku?
Saat ini, mungkin saja hukum yang berlaku adalah: aku menulis karena aku ada. Pada saatnya nanti, setelah kematianku, hukum yang berlaku berubah menjadi: aku ada karena aku pernah menulis. Itulah salah satu sumber kekuatanku untuk menulis. Apakah hukum yang berlaku pada akhirnya sesuai dengan harapan bukanlah menjadi urusan. Masing-masing individu memiliki hak untuk berikhtiar sesuai kadar kemampuannya.
Nafsu seringkali merayu diri untuk menunggu momentum dalam melaksanakan suatu hal. Misal menunggu kaya untuk mau bersedekah, menunggu waktu luang untuk menulis, menunggu sehat untuk giat beribadah, menunggu hutang lunas untuk bahagia, dan lain sebagainya. “Seandainya aku tidak kekurangan finansial tentu saja ibadahku menjadi sangat nyaman” begitu cara nafsu memikat hati. Padahal! Menunggu adalah aktivitas yang sangat membosankan. Lantas mengapa tidak dimulai saja dari sekarang? Kenapa malah memilih menunggu? Toh kebosanan yang didapat dari menunggu bisa memicu diri menjadi uring-uringan, baperan, dan cenderung sulit bahagia.
Aku tidak tahu bagaimana nasib tulisanku kelak. Apakah dia bisa bertemu jodohnya ataukah malah menjadi bujangan abadi yang tak pernah kenal siapa calon pembacanya. Boleh jadi aku menulis bukan untuk dibaca orang lain melainkan untuk berkirim pesan kepada Tuhan Semesta Alam mengabarkan bahwa di dalam hati ini masih ada cinta yang menyala untuk-Nya.
Menulis karena ingin mendapatkan duit pun sebetulnya tak mengapa, to? Toh gusti Allah saja memberi iming-iming surga dan menghadirkan neraka sebagai ancaman agar hambanya mau beribadah. Andai saja tak mendapatkan pahala ikhlas dari menulis, siapa tahu pahala itu bisa didapat dari memberikan nafkah pada keluarga menggunakan duit yang didapat dari menulis. Toh para pengarang dan  penjaja buku itu juga tak disebut sebagai penjual ilmu. Lantas apa salahnya aku meniagakan tulisan meskipun washilahnya berbeda?
Kalau orang kaya bisa mendermakan hartanya untuk kegiatan sosial aku pun bisa mendermakan tulisan melalui platform gratisan. Kalau dosen dan guru bisa mengajarkan ilmunya melalui pendidikan formal, aku juga bisa melalui berbagai media yang kumiliki. Kalau pemerintah bisa memimpin masyarakat, paling tidak aku bisa memimpin pembaca tulisanku. Kalu pejabat bisa berkuasa terhadap bawahannya, aku pun bisa berkuasa menggerakkan jari-jariku untuk menulis buah pikiran indah yang dapat menguasai hati pembacanya.
Aku [merasa] bisa belajar, mengajar, mendidik, memimpin, dan berkuasa melalui tulisan. Aku hidup dengannya meskipun ajal setiap detik senantiasa membayang-bayangiku.
Sebagaimana aku membebaskan anak-anakku untuk mencari jodohnya masing-masing, aku juga membebaskan tulisanku untuk menemukan pembacanya masing-masing.

Aku senang sebagian tulisanku sudah memiliki cucu. Bahkan! Ada pula yang sudah memiliki cicit. Ada yang disadur, digubah, dijiplak, dan diaku menjadi anak orang lain. Biar saja. Toh yang aku tulis hanyalah pengetahuan dan ilmu yang dititipkan Tuhan. Akal dan segala anggota tubuh pun hanyalah pinjaman. Lantas mengapa gusar jika ada yang mau mengambil alih pinjaman dan titipan itu. Siapa tahu memang jatah rejekiku untuk menjaganya sudah habis (wafat).
ھذا من فضل ربی

Leave a Reply