fbpx

BAYANGAN KEMATIAN

Mau digunakan untuk apa sih hidup ini kalau setiap detik dibayang-bayangi oleh kematian? Itulah pertanyaan rutin yang setiap hari terlintas di benak sejak pertama kali aku mengalami anxiety.


Aku yang biasanya dengan santai berebut dengan Ayi siapa yang akan mati lebih dulu bisa seketika panik dan takut mati saat anxiety itu bertandang. Jangankan mendengar kabar duka, mendengar sirine ambulan saja membuat gelisah tak karuan. Selalu ingin ditemani di mana pun. Bahkan saat pergi ke WC pun tidak berani mengunci pintu dari dalam karena takut tiba-tiba terjadi sesuatu.



Hidup dengan bayang-bayang kematian setiap saat membuatku menurunkan banyak target hidup. Idealisme dalam menjalani hidup perlahan tapi pasti semakin terkikis. Cita dan angan-angan pun secara perlahan mulai dilucuti satu persatu. Mengalir saja mengikuti aliran takdir.

Aku merasa berubah menjadi orang yang pragmatis. Selain istriku, orang yang paling banyak tahu tentang diriku saat ini adalah pak 

Suyono

. Aku yakin beliau merasakan perubahan padaku yang kini tidak se-excited dulu saat diajak ngobrol tentang masa depan. Aku hanya ingin mengerjakan apa yang bisa kukerjakan sebaik-baiknya. Masalah proyeksi masa depan rasanya tidak menggairahkan lagi. Aku tidak tahu apakah ini termasuk mental block ataukah jenis lainnya.

Namanya orang selalu dibayangi oleh kematian wajar saja kalau ingin menjalankan yang terbaik selagi masih mampu, bukan? Itulah yang aku lakukan sekarang. Aku berusaha untuk membahagiakan istri dan anakku sepenuhnya, sebahagia-bahagianya. Jalan-jalan, ngemall, nongkrong di kafe, nginep hotel, apapun itu. Asal ada waktu dan mampu akan aku lakukan untuk membuat mereka bahagia. Aku ingin membuat penduduk langit cemburu menyimak kisah cinta kami. Aku ingin hidupku bermanfaat paling tidak untuk keluarga kecilku kalau tidak bisa untuk orang lain.

Di sisi lain, urusan pekerjaan, aku juga berusaha menjalankan semaksimal mungkin. Selama aku masih mampu untuk menjalankan tugas-tugasku maka aku akan menyelesaikannya dengan sepenuh hati. Kontrak kerjanya bukan lagi aku rasakan dengan pak bos melainkan langsung dengan sang Maha Cinta. Seakan-akan Dia berbisik “tunaikan tanggung jawabmu sepenuh hati sebagai bukti cintamu pada-Ku’.

Amal baik (amilus sholihah) adalah satu-satunya kekuatan untuk melawan kejenuhan. Jujur saja sebetulnya aku jenuh setiap hari dibayang-bayangi dengan kecemasan dan ketakutan perihal kematian. Hanya di saat-saat tertentu saja aku bisa merasakan benar-benar siap untuk menghadap sang Maha Cinta. Untuk itu, ketika jenuh malas mau ngapa-ngapain satu-satunya yang dapat membangkitkan semangat adalah ‘amal baik’ itu. Salah satu contohnya adalah saat jenuh dalam bekerja. Ingat!!!!!!!! Melakukan pekerjaan dengan baik adalah amal baik yang semoga dapat ditukarkan dengan tiket bertemu dengan Sang Maha Cinta. Tidak mengecewakan pak bos juga amal baik. Membuka peluang kerja juga amal baik.

Sejujurnya aku ingin seperti orang lain yang tidak merasakan panik saat menunggu khutbah atau menunggu waktu antara adzan dan iqamah. Tidak gelisah saat menghadiri undangan walimah atau kendurian. Tidak panik saat gejala SVT muncul di keramaian. Tidak was-was menjelang tidur karena bayang-bayang tidak akan bisa bangun lagi.

Aku tahu semua itu butuh proses. Namun aku tidak tahu apakah lebih dulu kematian yang menjemput atau proses itu diselesaikan terlebih dahulu. Oleh sebab itu, di setiap jengkal nafasku, aku berusaha menjalankan yang terbaik menurut ukuranku.

Melihat kenangan-kenangan terdahulu di Facebook saja terasa begitu menyenangkan. Terlebih jika kenangan itu berupa keindahan (bukan curhat atau menghakimi orang lain) Penggalan-penggalan kisah itu aku sengaja ditulis di sini untuk belajar mengevaluasi amal sendiri sebelum amal itu benar-benar dihitung dan ditimbang kemudian diperlihatkan padaku hasilnya selama menanam di dunia.

Malam ini, setelah menyimak kisahnya Aisha Chaudhary yang mengidap SCID, aku merasa apa yang aku alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dialami olehnya. Dia saja bisa setegar itu sampai kematian benar-benar menjemputnya. Kenapa aku tidak?

Setelah sekian lama merasakan pedihnya mata karena kekeringan, malam ini bisa menangis dengan lega. Semoga setelah ini produksi airmatanya cukup agar tidak perlu pakai pelumas buatan lagi. 😀


Leave a Reply