Menjalani dua kali kehamilan dengan kondisi yang membutuhkan perhatian khusus membuat keputusan untuk memulai promil ketiga membutuhkan pertimbangan yang sangat panjang. Bukan tentang belum punya anak perempuan, ini tentang keinginan Abah K untuk memiliki anak lebih dari dua.
Daftar Isi
Drama Trimester Awal
Ada dua pertimbangan utama yang menjadi diskusi lumayan alot. Dua pertimbangan ini adalah hal yang tidak bisa ditawar dan menjadi pertimbangan utama apakah akan menjalani promil atau tidak. Dua pertimbangan tersebut adalah tentang kesiapan drama trimester awal yang kualami di dua kehamilan lalu dan jenis kelamin anak.
Menjalani dua kali kehamilan dengan kondisi mabok berat, bahkan bisa dibilang nyaris tidak punya kekuatan untuk melakukan aktivitas seperti hari-hari biasa membuatku merasa ketar-ketir jika akan mengalami di kehamilan ketiga. Apalagi di kehamilan ketiga ini akan kujalani di usia 30+, rasanya khawatir banget jika kondisinya mungkin lebih buruk.
Aku bertanya berulang kali, “Apakah Kakak siap menghadapi dramanya?”
Apa yang kualami tentu akan sangat berdampak ke anggota keluarga. Bukan tentang kerja dan enggak kerja, tetapi juga tentang kondisi keluarga yang mungkin akan membutuhkan perhatian khusus dan menyita mental, fisik dan dompet! Maboknya seorang Ibu akan berdampak ke segalanya.
Abah K tidak masalah dengan konsekuensi istrinya yang mabok berat. Dengan bercanda, beliau menjawab, “Selama ini apa aku pernah mempermasalahkan itu?”
Seolah beliau berkata, “Apakah dua kali kehamilan dengan kondisi mabok berat itu masih membuatmu ragu tentang bagaimana sikapku menghadapinya?”
Yhaaa, siapa tahu beliau kemakan kata orang-orang yang menganggap jika mabok di trimester pertama adalah tentang MINDSET. Robbuna, aku sungguh ingin misuh soal ini. Andai mabok berat dan segala keluhan kehamilan selesai hanya dengan mengubah mindset, aku akan melakukannya dengan senang hati.
Aku berulangkali memastikan, it’s okay? Are you ready for every single drama?
Coba Lagi, Candaan yang Tidak Lucu
Entah sudah berapa kali aku menerima candaan ‘coba lagi’. Aku bukan lagi perempuan yang reaktif atas segala komenan orang lain, tapi meskipun aku menanggapinya dengan bercanda, ternyata candaan yang muncul berulang kalo menjadi sangat mengganggu.
Kalian enggak punya candaan lain yang mungkin lebih elegan gitu?
Candaan inj menjadi salah satu pertimbangan serius. “Apakah Kakak berharap anak ketiga cewek?”
Ga cukup sekali. Aku bertanya berulang kali. Di situasi berbeda, setiap kali aku ingat tentang harapan punya anak lebih dari dua dan usiaku yang sebentar lagi 35. Tahun ini adalah tahun terbaik jika ingin menambah anak lagi, secara mental dan fisik cukup kuat.
Hamil bukan hanya tentang keinginan nambah anak, hamil juga tentang kesiapan mengasuh, yang mungkin akan menyita duniaku.
Abah K meyakinkan jika ia tidak mempunya patokan apapun tentang jenis kelamin. “Jika cowok, malah menjadi kuat keturunannya. Tiga anak cowok semua. Jika cewek, Alhamdulillah, yang cantik enggak cuma Ibunya.”
Jawaban yang mungkin hanya untuk ngayem-ngayemi hati istrinya. Namun bagiku itu sebuah kekuatan dan sesuatu yang bisa kupegang, setidaknya aku tidak punya beban mental tentang Jenis Kelamin anak. Tugasku hanya berikhtiar aku dan anakku sehat.
“Oke, jika memang Kakak siap dengan segala drama kehamilan, termasuk tentang trimester awal yang kualami di dua kehamilan yang lalu. Kakak juga enggak punya target tentang jenis kelamin, ayo… kita promil tahun ini. Usiaku tahun ini masih ideal untuk nambah anak.”
Kami memulai promil mandiri dengan penuh kesadaran. Aku sendiri memperbaiki pola makan. Hingga di bulan maulid, tanda-tanda kehamilan itu kurasakan. Anehnya, aku baru mabok berat setelah tugasku untuk menghandel acara maulid tuntas.

