Ambil KPR atau Pilih Ngontrak?

Ini pertanyaan klasik tapi kembali muncul seiring usia kehamilan Ayi bertambah tua. Dulu, waktu awal-awal menikah, pertanyaan ini juga muncul begitu kuat hingga akhirnya kami memutuskan untuk ngontrak dulu aja. Apakah kali ini akan kembali dengan keputusan yang sama?

Semalam, usai meeting dengan manajemen, aku mendapat kesempatan ngobrol berdua dengan pak Soey. Seperti biasanya, topik  obrolannya sangat luas mulai dari visi bisnis kedepan, isu terkini, sampai urusan personal.

Benarkah Bisa Slow Living di Salatiga?

Pak Soey tiba-tiba bertanya tentang harga tanah di sekitar jalan Getasan – Kopeng. Mau bikin villa untuk slow living katanya. Aku langsung membatin “wah sepertinya pak Soey kemakan iklan, nih!”.  Tinggal di Salatiga dan sekitarnya memang bisa menikmati slow living kalau pendapatannya gak sebatas UMR lokal. Sebaliknya kalau gajinya hanya mentok di UMR Salatiga yang ada malah sibuk nyari ceperan ngalor-ngidul untuk menambal kekurangan biaya hidupnya. Betul?

Pak Soey bilang kalau salah satu indeks suatu kota atau daerah bisa dikatakan cocok untuk slow living bukan sekedar dari besaran UMRnya melainkan dari angka migrasinya. Singkatnya dilihat dari berapa banyak orang di daerah tersebut yang mencari peruntungan di luar. Kalau banyak orang yg mencari penghidupan di daerahnya sendiri itu salah satu penanda bahwa derah tersebut memiliki indeks slow living yang tinggi.

Aku sebetulnya masih mau membantah dengan data yang aku miliki tapi urung karena ada hal lain yang ingin aku diskusikan. Soalnya kalau aku membantah lagi akan terjadi perdebatan sengit dengan sudut pandang yang berbeda. Sehingga topik yang mau aku bahas jadi kurang menarik lagi. Oleh sebab itu aku mendengarkan saja sampai pak Soey menyelesaikan argumentasinya. 🙃

Ambil KPR Apakah Solusi?

Aku mengatakan kalau sempat kepikiran mau ambil KPR. Aku minta pertimbangan pak Soey mengenai hal tersebut dan ternyata jawabannya masih sama dengan yang diberikannya padaku beberapa tahun yang lalu. Sama persis.

“Beli rumah itu tidak sebatas beli kepemilikan saja, mas. Ada hal lain yang lebih jauh dari itu” jawab pak Soey. “Banyak orang seringkali menurutku salah strategi. Yang penting punya rumah tapi menggadaikan kenyamanannya.” Lanjutnya.

Menurut pak Soey membeli rumah dengan KPR itu bagian dari menggadaikan kenyamanan. Hidup selama 15 atau 20 tahun dibayang-bayangi hutang meskipun ada harapan kepemilikan rumah itu bukan pilihan yang tepat. Dia lebih memilih sabar dulu sambil menikmati hidup, baru nanti kalau sudah waktunya beli ya tinggal beli.

Memiliki tanggungan KPR itu bisa memangkas opsi-opsi kehidupan yang ada. Mungkin yang awalnya ada alokasi untuk liburan, upgrade skill, membangun jaringan sosial atau bisnis, pilihan sekolah anak yang lebih fleksibel, dll. menjadi terbatas karena sudah dialokasikan untuk bayar cicilan KPR. Sehingga peningkatan kualitas hidup yang awalnya bisa mengikuti deret ukur hanya bisa berjalan menggunakan deret hitung saja. Walhasil kehidupan dirasakan tidak ada perubahan selama puluhan tahun.

Mengeluh Tapi Tak Berdaya

Kembali ke kaidah sebelumnya bahwa membeli rumah itu tidak sebatas urusan kepemilikan saja melainkan membeli kenyamanan termasuk membeli tetangga juga.

Orang yang ngebet pengen ambil KPR biasanya menggunakan anasir-anasir kemampuan finansial sekarang sebagai pertimbangan utama. Biasanya pertimbangan utamanya adalah harganya terjangkau sedangkan urusan kenyamanan dipikir belakangan. Apalagi kalau dibumbui ketidaknyamanan tinggal di rumah mertua, punya rumah sendiri seakan-akan solusi yang paripurna. Padahal andaikata mau bersabar sedikit dan menggunakan strategi yang tepat bisa mendapatkan rumah yang jauh lebih baik dari itu.

Pak Soey bercerita kalau banyak yang mengeluh setelah menempati rumah KPRnya puluhan tahun. Ada yang mengeluh tetangganya toksik, akses jalannya sempit, parkirnya susah, jauh dari pusat kota, bau karena dekat dengan TPS, dll. Akan tetapi disuruh pindah dari situ juga tidak mau. Kenapa?

Setelah puluhan tahun menempati rumah tentu saja banyak perombakan yang dilakukan bukan? Entah renov kamar mandi, renov dapur, buat taman mini, atau hal kecil lainnya yang dilakukan dengan cara menabung sedikit demi sedikit sisa nyicil KPR. Lalu setelah bertahun-tahun nyicil sedikit demi sedikit permak rumahnya agar sesuai keinginan itu tiba-tiba disuruh pindah ke tempat yang baru? Meninggalkan kenangan dan kebanggaannya begitu saja?

Walhasil hanya bisa mengeluh tapi tidak berani mengambil keputusan untuk pindah ke tempat yang mungkin lebih luas dan ideal.

Lalu kesimpulannya jadi ambil KPR atau ngontrak saja? Kalau saran pak Soey ngontrak dulu saja sambil menikmati hidup. Dengan hidup bahagia sambil meningkatkan skill, jaringan, dll. akan membuat kualitas hidup meningkat secara deret ukur (eksponensial). Jadi kalau sudah saatnya nanti, beli rumah secara cash pun tak ada masalah.

Petunjuk Sitasi
Budairi, Ahmad. (2026). Ambil KPR atau Pilih Ngontrak?. Blogger Sejoli. https://bloggersejoli.com/ambil-kpr-atau-pilih-ngontrak/ (diakses pada 11 February 2026 23:27)

Discover more from Blogger Sejoli

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading