Anakmu Suka Nonton Cocomelon di Youtube Juga, Kah?

Sejak si k kecil, dia sangat suka menonton Cocomelon di Youtube. Dia sampai hafal lagu-lagunya seperti wheels on the bus, tedy bears, london bridge is falling, dll. Ternyata sekarang adiknya juga sangat menikmati tontonan itu.

Aku memang cenderung memberi kebebasan pada anak-anak untuk menonton konten-konten umum. Sedangkan konten keagamaan aku memberi batasan yang ketat agar mereka fokus belajar agama dasar dari orang tuanya dulu. Jadi untuk belajar membaca Al-Qur’an, sholat, aqidah, fiqih, dan ilmu agama lainnya sengaja tidak kuperkenankan mengambil dari Youtube atau tontonan lain. Aku yang bertanggungjawab untuk mendidik anak-anakku terkait hal itu. Kalaupun belajar dari orang lain harus dari guru yang kukenal dan memiliki sanad yang jelas.

Ahmad Budairi

Tadi pagi, mereka bangun pukul 5 pagi. Karena gabut, akhirnya nonton Cocomelon juga. Aku beberapa saat menemani mereka untuk memberi sinyal bahwa tontonan itu layak sensor dariku.

Anak-anak aku bebaskan menonton Youtube tanpa batasan aplikasi parental control. Aku sengaja melatih mereka untuk mau diminta berhenti menonton saat durasi menontonnya dirasa sudah cukup lama. Awalnya memang berontak dan marah-marah namun seiring berjalannya waktu menjadi kebiasaan.

Kekurangan aplikasi Youtube (bukan YT Kids) adalah tidak bisa memblokir channel dengan konten tak layak. Sehingga anak-anak terkadang masih suka nyolong waktu untuk menonton video dari channel yang kularang itu.

Aku sih santai saja mendapati anak nyolong waktu untuk nonton begitu. Tapi bukan bearti membiarkannya begitu saja, lho. Aku tetap memberi arahan mengapa tak boleh menonton channel ini dan itu. Kalau ketahuan nyolong waktu cuma aku tegur saja. Dengan hal ini, aku berharap anak-anak terlatih hatinya untuk merasa bersalah saat melakukan kesalahan. Disamping itu, aku juga berharap mereka tidak takut mengakui kesalahan karena tidak dimarahi.

Kembali ke Cocomelon. Meskipun tontonan itu lolos sensor bagiku namun masih tetap harus dengan pengawasanku. Hal ini disebabkan adanya perbedaan kultur antara di sini dengan di tempat konten-konten itu dibuat. Aku harus menjelaskan beberapa bagian yang tidak aplikatif di sini.

Aku juga tetap membatasi durasi tontonan anak-anak meskipun konten yang ditonton aman. Biar mereka belajar untuk berlatih fisiknya di luar sesuai tingkat pertumbuhannya masing-masing.

Komunikasi dialogis (bukan perintah satu arah) sangat membantu membentuk kebiasaan saling percaya. Ketika aku sudah bilang nonton satu kali lagi maka mereka sudah siap-siap untuk berhenti menonton. Kalau merasa masih kurang biasanya dinego nonton 2 atau 3 video lagi. Terkadang aku turuti terkadang aku tolak dengan alasan yang manusiawi.

Leave a Reply

%d bloggers like this: